8 Februari 2026 - 20:10
Tinjauan atas Diplomasi Kesabaran, Ketelitian, dan Visi Jangka Panjang Iran di Hadapan Logika “Hollywood”

Qasim Salman al-Obaidi, penulis dan analis Irak, menulis: dengan menerima untuk duduk di meja perundingan, Iran telah menyajikan argumen yang meyakinkan kepada dunia—sesuatu yang menempatkan Donald Trump, Presiden AS, dalam posisi sulit; dari sudut pandang ini, perang justru merupakan opsi yang lebih mudah baginya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Para pakar politik menilai bahwa putaran perundingan terbaru antara AS dan Iran di Muscat memiliki perbedaan dengan putaran sebelumnya, yaitu meningkatnya dimensi ketahanan dan kekuatan.

Kali ini, terbentuk rangkaian nilai tindakan yang berjalan beriringan dengan perundingan: penataan militer yang ofensif, pemaksaan prasyarat tempat dan topik negosiasi oleh Iran, serta pernyataan berulang bahwa Iran siap kembali ke medan konfrontasi. Semua ini memberi corak kuat pada perundingan tersebut. Dalam pengertian ini, negosiasi ini merupakan contoh kelenturan heroik.

Dalam kerangka ini, Qasim Salman al-Obaidi menulis bahwa Republik Islam Iran senantiasa, dengan rasa tanggung jawab, tidak hanya terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga terhadap rakyat kawasan dan dunia, mendekatkan diri pada konsep rasionalitas dan logika.

Namun demikian, “logika Hollywood”—jika istilah ini dapat digunakan—tidak mengizinkan Iran tampil sebagai pihak yang rasional, karena gambaran itu akan menyingkap kontradiksi dalam narasi Amerika serta mengungkap niat sebenarnya di balik retorika politiknya.

Setelah Teheran merespons prinsip perundingan dengan AS melalui argumentasi dan dialog, “sang koboi” dengan cepat menambahkan klausul baru terkait senjata balistik Iran. Langkah ini tampak sebagai upaya untuk memberikan perlindungan preventif bagi rezim Zionis dari kemungkinan terbentuknya keseimbangan penangkal di masa depan jika terjadi konflik baru di kawasan.

Dengan menerima untuk duduk di meja perundingan, Iran telah menyajikan argumen yang meyakinkan kepada dunia, yang justru menempatkan Donald Trump dalam posisi sulit. Dari sudut pandang ini, perang adalah opsi yang lebih mudah baginya.

Hal ini dapat dipahami melalui beberapa motivasi:

Pertama, upaya Trump untuk merancang ulang jalur strategis Amerika dalam kerangka proyek “Timur Tengah Baru” yang bersinggungan langsung dengan meningkatnya kekuatan Iran, sehingga melemahkan kekuatan ini menjadi tujuan penting dalam perhitungan AS.

Kedua, upaya menghidupkan kembali unipolaritas Amerika setelah tanda-tanda terbentuknya tatanan dunia multipolar mulai terlihat, dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru di panggung global, dan Iran—menurut pandangan ini—merupakan salah satu kekuatan regional yang paling menonjol.

Ketiga, Teheran memandang penghancuran rezim Zionis sebagai bagian dari visi strategisnya. Oleh karena itu, dari sudut pandang ini, Iran yang kuat dan solid akan mempercepat perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan, sebuah prospek yang mengkhawatirkan Washington dan sekutunya.

Faktor lain yang memperumit situasi adalah lokasi perundingan. Pemilihan Oman alih-alih Ankara memiliki implikasi politik dan keamanan yang signifikan.

Hubungan dekat antara badan intelijen Turki dan AS dapat menempatkan delegasi Iran pada risiko kebocoran atau infiltrasi, sementara Muscat adalah mediator yang telah memainkan peran seimbang dalam putaran perundingan sebelumnya—sebuah posisi yang bertentangan dengan keinginan Washington untuk mengelola sebagian isu di balik layar.

Pada tingkat personal, menurut pandangan ini, Trump tampak lebih cenderung pada logika tekanan dan perang dibanding logika diplomasi, berbeda dengan diplomasi Iran yang ditandai oleh fleksibilitas dan kesabaran.

Karena itu, ada kemungkinan AS keluar dari proses perundingan dengan alasan “keputusan negara dalam bayangan” untuk menjaga muka, khususnya setelah meningkatnya kehadiran militer AS di Teluk Persia dan Laut Oman.

Pada akhirnya, “harga dari rasionalitas dan logika” kali ini mungkin berupa peningkatan ketegangan militer AS terhadap Iran. Namun, menurut tafsiran ini, taruhan ada pada kemampuan Teheran mengelola respons sedemikian rupa sehingga pada akhirnya Washington kembali ke jalur diplomasi—di mana benang-benang politik ditenun dengan ketelitian yang tenang, layaknya anyaman karpet Persia: kesabaran, ketelitian, dan visi jangka panjang.

Your Comment

You are replying to: .
captcha